Investigasi Menyeluruh Integritas Dokumen Akademik Joko Widodo: Analisis Forensik, Yuridis, dan Dinamika Citizen Law Suit
![]() |
| Gambar ilustrasi |
Anatomi Konflik dan Eskalasi Narasi di Ruang Publik
Fenomena dugaan ijazah palsu ini memiliki akar sejarah
yang panjang, berawal dari klaim-klaim awal di media sosial yang kemudian
diformalisasi melalui berbagai tindakan hukum dan administratif. Transisi dari
sekadar "gosip politik" menjadi sebuah penyelidikan teknis yang
serius dimulai ketika tokoh-tokoh dengan latar belakang keahlian spesifik mulai
menyajikan data yang dapat diuji secara empiris. Hal ini menciptakan pergeseran
paradigma di masyarakat, dari yang semula menganggap isu ini sebagai fitnah
murahan menjadi sebuah pertanyaan serius mengenai standarisasi dokumen negara.
Pemicu utama dari ekskalasi ini adalah adanya ketidaksinkronan informasi antara apa yang ditampilkan ke publik oleh pendukung pemerintah dengan apa yang ditemukan oleh para peneliti independen. Munculnya nama-nama seperti Bonatua Silalahi, yang menempuh jalur Komisi Informasi Pusat (KIP), menunjukkan adanya kebutuhan publik yang mendesak untuk melihat data tanpa sensor. Di sisi lain, keterlibatan tokoh politik senior seperti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang sempat dituding sebagai aktor intelektual di balik isu ini, menambah lapisan kompleksitas politik. Tuduhan terhadap SBY ini segera dibantah oleh Partai Demokrat sebagai upaya pembunuhan karakter dan fitnah yang merusak reputasi tokoh bangsa. Dinamika ini menunjukkan bahwa isu ijazah tidak lagi berdiri sendiri sebagai masalah administratif, melainkan telah menjadi senjata dalam perang asimetris informasi di tingkat nasional.
Garis Waktu Perkembangan Kasus dan Keterlibatan
Aktor Utama
Perjalanan kasus ini dapat dipetakan melalui interaksi antara para ahli, aktivis, dan institusi negara. Berikut adalah tabel yang merangkum peran dan kontribusi utama dari berbagai pihak dalam investigasi ini:
|
Aktor Utama |
Peran dan Fokus Investigasi |
Temuan Kunci / Kontribusi |
|
Roy Suryo |
Pakar Telematika |
Analisis overlapping, watermark, dan simetri logo. |
|
Rismon Sianipar |
Ahli Forensik Digital |
Analisis font, teknologi cetak 1985, dan lembar
pengesahan skripsi. |
|
Bonatua Silalahi |
Pengamat Kebijakan Publik |
Memperoleh salinan ijazah dari KPU melalui jalur KIP. |
|
Dokter Tifa |
Ahli Biometrik/Anatomi |
Analisis perbandingan wajah (antropometri) dan metode
Bayesian. |
|
Oegroseno |
Mantan Wakapolri |
Sorotan terhadap perbedaan anatomi wajah dan prosedur
Bareskrim. |
|
Mohamad Sobary |
Budayawan/Intelektual |
Kritik moral terhadap transparansi dan pembelaan hak
warga negara. |
|
Universitas Gadjah Mada |
Institusi Penerbit |
Memberikan klarifikasi resmi dan menunjukkan arsip
internal. |
|
PN Surakarta |
Lembaga Peradilan |
Menyelenggarakan sidang Citizen Law Suit nomor
211/Pdt.G/2025/PN Skt. |
Analisis Komparatif Roy Suryo: Metodologi Visual dan Anomali Fisik
Salah satu argumen paling teknis dan mendetail dalam
persidangan di Pengadilan Negeri Solo disampaikan oleh Roy Suryo. Sebagai pakar
telematika, ia menggunakan pendekatan komparatif dengan membandingkan salinan
ijazah Joko Widodo yang beredar di publik dengan ijazah asli milik alumni UGM
lainnya dari periode kelulusan yang berdekatan. Roy menekankan bahwa dalam
dunia forensik dokumen, konsistensi adalah indikator utama keaslian.
Temuan Roy yang paling mencolok berkaitan dengan fitur
keamanan fisik dokumen yang seharusnya ada pada standar ijazah UGM tahun 1985.
Pada ijazah pembanding milik almarhum Bambang Budy Harto, ditemukan adanya watermark
bertuliskan 'Gadjah Mada University' dan stempel timbul (emboss) yang
melintasi pas foto. Roy menjelaskan bahwa prosedur standar pada masa itu adalah
pas foto ditempelkan terlebih dahulu sebelum dokumen tersebut dicap secara
fisik oleh pihak universitas. Hal ini menyebabkan adanya bekas lintasan stempel
yang melintasi permukaan foto. Namun, pada dokumen yang diklaim sebagai milik
Joko Widodo, fitur-fitur ini—baik watermark maupun lintasan
stempel—tidak ditemukan.
Lebih jauh lagi, Roy
menyoroti aspek geometris dari logo UGM. Dengan menggunakan dua perangkat lunak
analisis citra, ia menemukan bahwa logo pada ijazah pembanding tetap
proporsional dan simetris meskipun ditarik secara vertikal maupun horizontal.
Sebaliknya, logo pada ijazah nomor 1120 atas nama Joko Widodo mengalami
distorsi yang ia sebut sebagai "petot". Anomali lainnya ditemukan
pada penulisan nomor seri, di mana huruf "A" terlihat keluar dari
batas logo, sebuah kesalahan teknis yang menurutnya tidak mungkin terjadi jika
dokumen tersebut dicetak menggunakan mesin dan plat yang sama dengan ijazah
alumni lainnya pada tahun yang sama. Berdasarkan akumulasi temuan ini, Roy
menyatakan dengan tingkat keyakinan 99,9 persen bahwa dokumen yang beredar
tersebut adalah palsu.
Eksplorasi Digital Rismon Sianipar: Arkeologi
Teknologi dan Analisis Font
Rismon Sianipar membawa perspektif yang berbeda namun
saling melengkapi melalui analisis forensik digital. Fokus utamanya adalah pada
arkeologi teknologi percetakan dan konsistensi tata letak dokumen akademik.
Dalam kesaksiannya di sidang CLS Solo pada 18 Februari 2026, Rismon menyoroti
lembar pengesahan pembimbing skripsi yang dinilainya terlalu presisi untuk
standar teknologi tahun 1985.
Rismon menggunakan metode pattern recognition dan digital image processing untuk menganalisis konsistensi jarak antarhuruf. Ia berpendapat bahwa tata letak teks pada dokumen tersebut menunjukkan ciri-ciri hasil pemrosesan kata modern yang menggunakan teknologi laser atau inkjet resolusi tinggi, bukan hasil mesin ketik manual atau printer dot matrix yang umum digunakan di Indonesia pada pertengahan 1980-an. Karakteristik printer dot matrix pada masa itu, jika diperbesar secara digital, akan menunjukkan karakter huruf yang terbentuk dari susunan titik-titik kasar, bukan garis halus yang kontinu.
Rismon juga mengkritik klaim
pihak UGM mengenai penggunaan font yang mirip dengan Times New Roman. Meskipun
pihak kampus menyatakan bahwa percetakan profesional seperti "Prima"
dan "Sanur" di Yogyakarta sudah mampu menghasilkan cetakan sampul
dengan font tersebut, Rismon menilai bahwa tingkat kemiripan antar dokumen yang
diklaim dibuat dengan teknologi berbeda menunjukkan adanya anomali. Ia secara
tegas menantang Bareskrim Polri untuk membuka metode penelitian mereka yang
menyatakan ijazah tersebut identik, serta mendesak dilakukannya uji
laboratorium terhadap usia tinta dan kertas sebagai pembuktian ilmiah yang tak
terbantahkan.
Perbandingan Spesifikasi Dokumen: Asli vs Diduga
Palsu
Untuk memudahkan pemahaman terhadap perdebatan teknis
ini, tabel berikut menyajikan perbandingan antara fitur-fitur yang ditemukan
pada ijazah pembanding yang diakui asli dengan temuan pada salinan ijazah Joko
Widodo menurut para ahli:
|
Fitur Dokumen |
Ijazah Pembanding (Asli) |
Salinan Ijazah Jokowi (Temuan Ahli) |
|
Watermark |
Ada ('Gadjah Mada University') |
Tidak Ditemukan |
|
Stempel Emboss |
Jelas dan melintasi pas foto |
Tidak Ada / Tidak Terlihat |
|
Logo UGM |
Simetris dan Proporsional |
Mengalami Distorsi / "Petot" |
|
Nomor Seri (Huruf A) |
Menempel di dalam batas logo |
Keluar dari batas logo |
|
Tekstur Huruf |
Sesuai teknologi dot matrix/ketik |
Terlalu presisi (seperti hasil digital) |
|
Tanda Tangan |
Terintegrasi dengan kertas |
Perlu uji forensik tinta |
Investigasi Bonatua Silalahi: Keterbukaan Informasi dan Transparansi KPU
Langkah signifikan dalam mencari kebenaran materiil dilakukan oleh Bonatua Silalahi melalui mekanisme hukum keterbukaan informasi publik. Bonatua berhasil memenangkan sengketa informasi di Komisi Informasi Pusat (KIP), yang mewajibkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk menyerahkan salinan ijazah Joko Widodo yang digunakan dalam proses pencalonan presiden pada tahun 2014 dan 2019 secara utuh dan tanpa sensor.
Setelah memperoleh dokumen tersebut, Bonatua bersama para ahli lainnya mengidentifikasi adanya kejanggalan administratif yang subtil namun penting. Salah satunya adalah ketiadaan tanggal pada cap legalisir yang tertera dalam salinan ijazah tersebut. Dalam prosedur administrasi di Indonesia, setiap proses legalisir salinan dokumen resmi biasanya menyertakan tanggal penandatanganan oleh pejabat yang berwenang untuk menunjukkan validitas waktu dokumen tersebut diproduksi. Absennya detail ini memicu pertanyaan lebih lanjut mengenai kapan dan bagaimana proses verifikasi dokumen tersebut dilakukan oleh KPU selama masa pendaftaran pemilu.
Bonatua menegaskan bahwa
tindakannya bukan didasari oleh kepentingan politik sempit, melainkan sebagai
bentuk pengawasan warga negara terhadap integritas data pejabat publik. Ia
menyatakan bahwa dokumen yang diperoleh dari KPU adalah data sekunder, namun
data inilah yang menjadi landasan bagi seseorang untuk menduduki jabatan
tertinggi di negara ini. Oleh karena itu, jika terdapat cacat administratif
pada data sekunder tersebut, maka hal itu memberikan alasan hukum yang kuat
untuk meragukan keabsahan materiil dari dokumen aslinya.
Perspektif Biometrik dan Anatomi: Dokter Tifa dan
Oegroseno
Salah satu aspek yang paling kontroversial dalam investigasi ini adalah analisis antropometri atau perbandingan fisik antara foto masa muda Joko Widodo di ijazah dengan penampilannya sebagai presiden. Dokter Tifauzia Tyassuma (Dokter Tifa) dan mantan Wakapolri Oegroseno adalah dua tokoh yang secara konsisten menyuarakan adanya ketidaksesuaian anatomi pada foto dokumen yang diperdebatkan.
Dokter Tifa menggunakan metode statistik Bayesian untuk menghitung probabilitas kesamaan antara dua subjek dalam foto yang berbeda. Melalui risetnya, ia mengklaim bahwa terdapat perbedaan signifikan pada struktur hidung, telinga, dan rahang antara foto di ijazah dengan profil asli Joko Widodo muda yang dikenal oleh rekan-rekannya. Dokter Tifa bahkan menyebut bahwa foto pada ijazah tersebut justru memiliki kemiripan lebih tinggi dengan sosok lain, yang memunculkan dugaan adanya praktik "tempel foto" dalam dokumen tersebut. Meskipun Dokter Tifa sempat mendapatkan serangan balik terkait status akademiknya dari STF Driyarkara, ia tetap bersikeras pada temuan risetnya dan menantang Rektor UGM untuk membuktikan keaslian dokumen tersebut di pengadilan.
Senada dengan Dokter Tifa,
Komjen Pol (Purn) Oegroseno menyatakan keprihatinannya dari sudut pandang
seorang penegak hukum senior. Oegroseno menyoroti perbedaan bentuk hidung,
gigi, dan telinga yang menurutnya sulit dijelaskan hanya melalui proses penuaan
alami. Lebih jauh, ia mengkritik pendekatan Bareskrim Polri yang hanya
memverifikasi keidentikan blangko ijazah, namun tidak meneliti secara mendalam
keaslian tanda tangan Rektor dan Dekan yang menjabat pada saat itu. Oegroseno
berpendapat bahwa institusi kepolisian seharusnya tidak terkesan defensif atau
membela kepentingan kekuasaan, melainkan harus transparan dalam menyajikan
bukti-bukti teknis kepada publik agar tidak terjadi degradasi kepercayaan
terhadap institusi Polri.
Problematika Akademik: Skripsi, KKN, dan Kesaksian
Rekan Seangkatan
Inti dari pembelaan terhadap keaslian ijazah Joko Widodo
berpusat pada kesaksian dari rekan-rekan kuliahnya di Fakultas Kehutanan UGM
serta pernyataan resmi dari pihak universitas. UGM secara tegas menyatakan
bahwa Joko Widodo adalah benar alumnus mereka dengan nomor mahasiswa
80/34416/KT/1681 yang lulus pada 5 November 1985. Dekan Fakultas Kehutanan,
Sigit Sunarta, menyatakan bahwa universitas masih menyimpan salinan skripsi
asli milik Joko Widodo, sementara dokumen ijazah asli berada di tangan yang bersangkutan.
Isu mengenai skripsi dan Kuliah Kerja Nyata (KKN)
menjadi titik krusial dalam diskusi ini. Terdapat tudingan dari Rismon Sianipar
bahwa format skripsi tersebut tidak sesuai dengan standar penulisan tahun 1985.
Namun, alumni seperti Frono Jiwo dan Saminudin Barori Tou memberikan kesaksian
yang berbeda. Frono, yang mengaku sebagai teman satu angkatan yang masuk tahun
1980 dan wisuda bersamaan, menyatakan bahwa ijazahnya memiliki tampilan, font,
dan tanda tangan pejabat yang sama dengan milik Joko Widodo. Ia bahkan
menantang siapa pun untuk membandingkan ijazahnya dengan ijazah sang presiden.
Saminudin Barori Tou, dalam
kesaksiannya di sidang PN Solo, menceritakan pengalamannya bersama Joko Widodo
selama masa kuliah dan KKN. Ia bahkan menunjukkan foto-foto dokumentasi pribadi
saat mendaki gunung dan berkegiatan di kampus sebagai bukti keberadaan fisik
Joko Widodo sebagai mahasiswa aktif pada masa itu. Namun, pihak penggugat tetap
kritis terhadap kesaksian ini, dengan menyoroti bahwa saksi-saksi tersebut
tidak pernah melihat ijazah asli Joko Widodo secara langsung dan hanya bersaksi
berdasarkan ingatan masa lalu serta kedekatan personal.
Jalannya Sidang Citizen Law Suit di Surakarta:
Dinamika Hukum dan Isu Mulyono
Gugatan Citizen Law Suit (CLS) di Pengadilan Negeri Surakarta menjadi muara dari seluruh kontroversi ini. Gugatan bernomor 211/Pdt.G/2025/PN Skt ini menempatkan Joko Widodo sebagai Tergugat I, serta Rektor dan Wakil Rektor UGM sebagai Tergugat II dan III. Salah satu momen penting dalam persidangan adalah ketika majelis hakim menolak eksepsi yang diajukan oleh pihak Joko Widodo, sehingga pemeriksaan materiil perkara dapat dilanjutkan.
Dalam persidangan yang berlangsung pada awal tahun 2026, muncul berbagai fakta menarik, termasuk perdebatan mengenai identitas "Mulyono" yang sempat viral di media sosial. Kuasa hukum Joko Widodo, YB Irpan, berusaha menjelaskan bahwa perbedaan nama atau identitas yang diperdebatkan di ruang publik telah dijawab melalui bukti-bukti administratif yang diajukan di persidangan. Pihak tergugat juga menghadirkan saksi-saksi dari masyarakat umum, seperti warga Boyolali, untuk memberikan testimoni mengenai latar belakang keluarga Joko Widodo di masa lalu.
Pihak penggugat, yang
diwakili oleh Muhammad Taufiq, tetap fokus pada upaya mendesak pengadilan agar
memerintahkan Tergugat I untuk menunjukkan ijazah asli di depan persidangan.
Taufiq menyatakan keyakinannya bahwa terdapat ketidakkonsistenan pada lembar
pengesahan skripsi, di mana tanda tangan pembimbing utama menjadi poin yang
sangat diragukan. Dinamika persidangan ini mencerminkan adanya tarik-menarik
antara pembuktian secara formil (administratif) dengan upaya pencarian
kebenaran materiil (fisik dan teknis) yang diinginkan oleh penggugat.
Kritik Intelektual Mohamad Sobary: Kekecewaan
Budayawan terhadap Etika Publik
Keterlibatan Mohamad Sobary memberikan dimensi moral dan
etis pada kasus ini. Sebagai budayawan dan intelektual yang sebelumnya
merupakan pendukung setia Joko Widodo, Sobary mengungkapkan rasa kecewa yang
mendalam karena apa yang ia anggap sebagai pengkhianatan terhadap nalar waras
dan kejujuran. Sobary menekankan bahwa seorang pemimpin seharusnya menjawab
keraguan publik dengan transparansi yang nyata, bukan dengan mempolisikan
pihak-pihak yang melontarkan kritik atau pertanyaan.
Sobary memuji keberanian Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan
Dokter Tifa, yang ia sebut sebagai pembawa cahaya dalam kegelapan informasi. Ia
berpendapat bahwa persoalan ijazah ini bukan sekadar masalah dokumen, melainkan
masalah integritas karakter seorang pemimpin. Menurut Sobary, jika seorang
pemimpin tidak mampu membuktikan kebenaran yang paling dasar mengenai identitas
akademiknya, maka hal itu merusak fondasi moral kepemimpinannya di mata rakyat.
Ia juga menyinggung bahwa isu ini merupakan bagian dari "topeng" yang
selama ini digunakan oleh kekuasaan dan harus diblejeti (dibongkar) demi
kewarasan publik.
Kekecewaan Sobary
mencerminkan pergeseran di kalangan pendukung intelektual Joko Widodo yang
mulai merasa ada yang tidak beres dengan tata kelola kebenaran di bawah
pemerintahannya. Baginya, kasus ijazah ini adalah simbol dari krisis kejujuran
yang lebih luas, yang mencakup isu KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang
merambah hingga ke suksesi kepemimpinan keluarga.
Sintesis Investigatif dan Implikasi Masa Depan
Investigasi terhadap dugaan ijazah palsu Joko Widodo mengungkapkan adanya jurang pemisah yang lebar antara otoritas resmi dengan kelompok peneliti independen. Di satu sisi, institusi seperti UGM dan KPU bersikeras pada validitas data administratif yang mereka miliki. Di sisi lain, para ahli telematika dan forensik digital menyajikan anomali fisik dan teknis yang sangat spesifik dan sulit diabaikan begitu saja tanpa pengujian tandingan yang setara kualitasnya.
|
Dimensi Konflik |
Posisi Otoritas (UGM/KPU/Polri) |
Posisi Peneliti Independen (Roy/Rismon/Tifa) |
|
Kebenaran |
Kebenaran Formil (Sesuai catatan buku induk) |
Kebenaran Materiil (Sesuai bukti fisik dokumen) |
|
Metode Verifikasi |
Kesaksian alumni dan arsip internal |
Analisis digital, biometrik, dan komparasi forensik |
|
Respon terhadap Isu |
Menyebutnya sebagai fitnah murahan |
Menuntut transparansi dan uji lab independen |
|
Solusi yang Ditawarkan |
Konferensi pers dan pernyataan resmi |
Sidang CLS dan pemeriksaan ijazah asli di pengadilan |
Implikasi dari sengketa ini melampaui masa jabatan presiden. Ini menjadi preseden penting bagi masa depan akuntabilitas pejabat publik di Indonesia. Jika standar ijazah seorang presiden dapat diperdebatkan dengan data teknis yang sedemikian rupa, maka terdapat kebutuhan mendesak untuk digitalisasi dokumen negara yang terjamin keasliannya melalui teknologi yang tidak dapat dimanipulasi seperti blockchain, serta perlunya standarisasi arsip universitas yang lebih transparan bagi publik.
Sidang Citizen Law Suit di Solo akan menjadi ujian bagi kemandirian sistem peradilan dalam menghadapi kekuasaan. Keputusan majelis hakim untuk menghadirkan atau tidak menghadirkan ijazah asli Joko Widodo sebagai bukti kunci akan menentukan apakah kepercayaan publik terhadap institusi hukum dapat dipulihkan. Dalam jangka panjang, kasus ini akan dicatat dalam sejarah politik Indonesia sebagai momen di mana warga negara menggunakan nalar kritis dan instrumen hukum untuk menantang narasi resmi negara demi mencari sebuah kebenaran yang objektif.
Investigasi ini menyimpulkan
bahwa polemik ini tidak akan berakhir hanya dengan pernyataan lisan atau
konferensi pers. Satu-satunya jalan keluar yang dapat memuaskan rasa keadilan
dan kewarasan publik adalah melalui pengujian ilmiah yang transparan dan independen
terhadap dokumen fisik asli, yang melibatkan para ahli dari kedua belah pihak
di bawah pengawasan hukum yang ketat. Tanpa itu, bayang-bayang keraguan
mengenai integritas akademik pimpinan tertinggi negara ini akan terus menjadi
beban sejarah yang diwariskan kepada generasi mendatang.
Karya yang dikutip
1. Fakta-fakta Seputar Dugaan Ijazah Palsu Jokowi |
tempo.co, https://www.tempo.co/politik/fakta-fakta-seputar-dugaan-ijazah-palsu-jokowi-1231805
2. UGM Pastikan Jokowi Lulus 5 November 1985, Ini 5
Fakta Klarifikasi Ijazah - Metro TV, https://www.metrotvnews.com/read/NQACY27g-ugm-pastikan-jokowi-lulus-5-november-1985-ini-5-fakta-klarifikasi-ijazah
3. Bonatua Silalahi Terima Salinan Ijazah Jokowi dari
KPU: Ini Data Sekunder Tapi Belum Teruji - YouTube, https://www.youtube.com/watch?v=Ls-NJPQchc0
4. Kronologi Bonatua Silalahi Peroleh Salinan Ijazah
Jokowi Tanpa Sensor, https://www.kompas.tv/nasional/650815/kronologi-bonatua-silalahi-peroleh-salinan-ijazah-jokowi-tanpa-sensor
5. Kronologi Nama SBY Diseret dalam Isu Ijazah Palsu
Jokowi, Demokrat Pertimbangkan Somasi - tvOneNews, https://www.tvonenews.com/berita/nasional/403773-kronologi-nama-sby-diseret-dalam-isu-ijazah-palsu-jokowi-demokrat-pertimbangkan-somasi
6. Sidang PN Solo, Roy Suryo Bandingkan Ijazah Jokowi
dengan ..., https://regional.kompas.com/read/2026/02/18/121356778/sidang-pn-solo-roy-suryo-bandingkan-ijazah-jokowi-dengan-alumni-ugm-soroti?page=all
7. Ahli Forensik Digital Rismon Sianipar Sebut Format
Skripsi Jokowi Tak Sesuai Teknologi 1985 - Kompas Regional, https://regional.kompas.com/read/2026/02/18/145728378/ahli-forensik-digital-rismon-sianipar-sebut-format-skripsi-jokowi-tak?page=all
8. UGM Klarifikasi Keaslian Ijazah dan Skripsi Jokowi |
kumparan.com, https://m.kumparan.com/kumparannews/ugm-klarifikasi-keaslian-ijazah-dan-skripsi-jokowi-24hnqbcEMwz
9. Blak-blakan! Ahli Digital Forensik Rismon Kritisi
Bareskrim, Desak Beber Metode Bukti Ijazah Jokowi - YouTube, https://www.youtube.com/watch?v=34AHEwgzO0c
10. Rismon Sianipar; Mau Ungkap Keaslian Ijazah Jokowi?
Cukup 3 Cara - KaltengPos, https://kaltengpos.jawapos.com/nasional/2626286741/rismon-sianipar-mau-ungkap-keaslian-ijazah-jokowi-cukup-3-cara
11. [FULL] Pertama Kali! Salinan Ijazah Jokowi dari KPU
RI Ditunjukkan Bonatua Silalahi ke Publik - YouTube, https://www.youtube.com/watch?v=guOA1beIL5g
12. Bonatua Beber Temuan Netizen usai Unggah Salinan
Ijazah Jokowi dari KPU ke Medsos, https://www.kompas.tv/nasional/650842/bonatua-beber-temuan-netizen-usai-unggah-salinan-ijazah-jokowi-dari-kpu-ke-medsos
13. Bongkar Ijazah Jokowi Palsu, Gelar Dokter Tifa Tak
Diakui Kampus - Ngopibareng.id, https://www.ngopibareng.id/read/bongkar-ijazah-jokowi-palsu-gelar-dokter-tifa-tak-diakui-kampus
14. Eks Wakapolri Oegroseno Temukan Kejanggalan di Foto
Ijazah Jokowi: Bentuk Hidung & Gigi Beda - YouTube, https://www.youtube.com/watch?v=oTrBXP6HSC4
15. Dokter Tifa Tak Diam, Bandingkan Foto Jokowi 1 dan
Jokowi 2 Pakai Metode Bayesian: 2 Orang Berbeda - YouTube, https://www.youtube.com/watch?v=8hcTf6uprrI
16. Hasil Riset Dokter Tifa Ungkap Foto Ijazah Jokowi
Lebih Mirip Dumatno | Rakyat Bersuara, https://www.youtube.com/watch?v=IO73q0oPabI
17. Eks Wakapolri Oegroseno Bongkar Kejanggalan Foto
Ijazah Jokowi: Hidung & Telinga Beda - YouTube, https://www.youtube.com/watch?v=rcDDz-aquac
18. Bareskrim Sebut Ijazah Jokowi Identik, Mantan
Wakapolri: Harusnya yang Diteliti Tanda Tangan Rektor dan Dekan -
SINDOnews.com, https://nasional.sindonews.com/read/1574389/13/bareskrim-sebut-ijazah-jokowi-identik-mantan-wakapolri-harusnya-yang-diteliti-tanda-tangan-rektor-dan-dekan-1748700355
19. Tak Lagi Jadi Tersangka, Eggi Sudjana Kini Dituding
Jadi Aktor Utama Kasus Ijazah Palsu Jokowi - YouTube, https://www.youtube.com/watch?v=UQELWxGBJoE
20. Oegroseno Explains Why He Doesn't Believe Jokowi's
Diploma Is Genuine, Cite Differences in Face a... - YouTube, https://www.youtube.com/watch?v=TlMeeJ9hzEg
21. Klarifikasi UGM Soal Tuduhan Ijazah dan Skripsi
Palsu Joko Widodo, https://ugm.ac.id/id/berita/klarifikasi-ugm-soal-tuduhan-ijazah-dan-skripsi-palsu-joko-widodo/
22. Two of Jokowi's College Friends Witnessed the
Diploma Lawsuit in Solo - YouTube, https://www.youtube.com/watch?v=YRWZheLOZoI
23. Dengar, Begini Kesaksian Teman Jokowi di Fakultas
Kehutanan UGM - JPNN.com Jogja, https://jogja.jpnn.com/jogja-terkini/5549/dengar-begini-kesaksian-teman-jokowi-di-fakultas-kehutanan-ugm
24. Hakim Tolak Eksepsi Jokowi, Gugatan CLS Ijazah
Berlanjut | tempo.co, https://www.tempo.co/hukum/hakim-tolak-eksepsi-jokowi-gugatan-cls-ijazah-berlanjut-2097811
25. Alasan di Balik Keyakinan Penggugat Citizen Lawsuit
Ijazah Jokowi Menang 150% di Sidang - YouTube, https://www.youtube.com/watch?v=1x7bbF4ZVdo
26. Mohamad Sobary: Saya Kecewa dengan Jokowi karena
Punya Nalar Waras! - Law-Justice, https://www.law-justice.co/artikel/199884/mohamad-sobary-saya-kecewa-dengan-jokowi-karena-punya-nalar-waras/
27. Dulu Pendukung Keras, Sekarang Berbalik Arah,
Sobary: Saya Tertipu Jokowi, Jutaan Orang Tertipu - YouTube, https://www.youtube.com/watch?v=3pIagQrMO7E
28. Berbalik Arah, Mohamad Sobary yang Pernah Dukung
Jokowi Kini Bela Roy Suryo cs di Kasus Ijazah - YouTube, https://www.youtube.com/watch?v=iO9LBDbTlBM
[Di riset dengan bantuan AI]

Komentar
Posting Komentar
Jika berkenan, kamu bisa memberikan komentar disini, dan jika kamu punya blog, saya akan kunjung balik. (Isi komentar diluar tanggung jawab kami).