Langsung ke konten utama

Nilai Pengetahuan (Rapor)

No Mata Pelajaran Kelas 4
Semester 1
Kelas 4
Semester 2
Kelas 5
Semester 1
Kelas 5
Semester 2
Kelas 6
Semester 1
Rata-Rata
5 Semester
1 Pendidikan Agama 0
2 PPKN 0
3 Bahasa Indonesia 0
4 Matematika 0
5 IPA/IPAS 0
Rata-rata Keseluruhan 0

Obrolan Warga Desil 6

Pagi itu di sebuah kantor instansi pemerintah, datanglah seorang ibu yang mengeluh karena tidak mendapat bansos lagi. Dia inginnya tetap mendapat bansos. Akhirnya saya cek di website Cek Bansos, ternyata ibu terdata dalam DTSEN berada dalam desil 6, artinya termasuk masyarakat kelas menengah.

Ilustrasi AI

Ibu itu berkata "Bagaimana ya Pak saya mau turun desil?"

Astagfirullah ibu, orang mah maunya naik desil, alias kehidupannya menjadi lebih baik.

"Tapi suami saya kerja biasa aja, bukan orang mampu"

Saya bisa pahami dari penampilannya memang sesuai sih kalau berada dalam rentang desil 1 - 4, tapi ternyata pemerintah menempatkannya dalam desil 6, keluarga kelas menengah yang tidak berhak mendapat bansos lagi, termasuk saya.

Desil hanyalah sekedar angka, seperti halnya angka pertumbuhan ekonomi, angkanya naikpun tapi ketika ada pembagian bansos yang antri begitu banyak. Pengangguran dimana-mana, cari kerja susah, rupiah melemah terus, index saham Indonesia juga menuju ke lima ribuan. Apakah kondisi kita masih baik-baik saja?

Sama dengan si ibu tadi, keluarganya dalam rentang desil 6, tapi ibu itu mungkin merasakan tekanan hidup yang semakin hari semakin berat. Desil 6 yang "disandangnya" tidak lantas membuat ekonominya lebih baik. Ibu itu butuh bansos, tapi dianggap tidak berhak. Ibarat rakyat banyak yang mengeluh sudah mulai merasakan kesulitan hidup, tapi angka pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2026 tercatat tumbuh 5.61%. Kalau melihat tren 5 tahun terakhir menunjukan peningkatan, tapi kok rakyat merasa beban hifdup semakin berat?

Para ekonom sudah mulai bersuara agar pemerintah lebih berhati-hati, namun pemerintah melalui juru bicara maupun buzzer-nya mengatakan semua baik-baik saja.

Saya sendiri merasakan, kalau makan dipinggir jalan, baru saja duduk sudah didatangi pengemis, anak kecil yang meminta sumbangan, badut, ondel-ondel, dan pengamen yang suaranya tidak merdu lagi karena mengamen bukan lagi mempertunjukan seni tapi hanya mengemis dengan cara yang berbeda.

Akhirnya si ibu akan tetap berusaha supaya desilnya turun agar bisa mendapatkan bansos lagi, sementara saya yang juga merupakan warga desil 6 berharap bisa naik kelas ke desil 7.

Baca Juga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hubungan BI Rate, The Fed, dan IHSG: Mengapa Penting untuk Diketahui?

(Gambar : Okezone Ekonomi) Kondisi ekonomi global dan domestik sangat mempengaruhi pasar keuangan Indonesia, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dua faktor utama yang sering menjadi sorotan para pelaku pasar adalah BI Rate (suku bunga acuan Bank Indonesia) dan kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat. Lalu, bagaimana sebenarnya hubungan antara BI Rate, The Fed, dan IHSG? Mari kita bahas lebih lanjut. Apa Itu BI Rate dan The Fed? BI Rate adalah suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. BI Rate menjadi acuan bagi suku bunga perbankan dan lembaga keuangan lainnya di Indonesia, sehingga berpengaruh terhadap suku bunga kredit dan tabungan masyarakat. The Fed adalah bank sentral Amerika Serikat yang menetapkan suku bunga acuan atau yang dikenal sebagai "The Fed Rate." Kebijakan suku bunga The Fed memiliki dampak besar terhadap ekonomi global karena dolar AS merupakan mata uang cadangan dunia. Bagaimana Hubungan Antara BI Rate dan The...

Pengalaman Nonton Ayat-ayat Cinta

Coz webnya kakbayu nggak bisa dibuka ya udah jadinya saya krm in email aja, saya mo cerita nich... Hari jumat yang lalu saya nonton ayat2 cinta bareng ama temen, dan Subhanalloh, mata saya bengkak gedhe banget sekeluarnya dari bioskop, dan bengkak itu 2 hari baru bisa kempes, he he he he he. Sebenarnya saya nangis bukan karena jalan ceritanya, bukan karena Fahri yang begitu sempurna seperti halnya Aisha baik agama maupun hati dan akhlaknya, bukan juga karena nasib Maria yang begitu malang. Tapi ada dua adegan yang sampai sekarang kalo diinget saya masih tetep nangis.

Hati-hati SONY Fakedisk, Flashdisk Palsu di Lazada

Sebenarnya saya tidak mau posting ini, tapi saya rasa perlu kiranya pembaca ketahui bahwa hati-hati jika membeli flashdisk murah meskipun di toko online yang punya nama besar seperti Lazada. Karena ada saja merchant-merchant nakal yang suka menjual barang palsu. Saya baru saja membeli 3 buah flashdisk SONY 32GB MicroVault di Lazada seharga Rp. 60.000 – Rp. 70.000an per buah. Memang sih harga segitu terlalu murah dan seharusnya kita curiga. Tapi nama besar Lazada dengan layanan PERLINDUNGAN PEMBELI 100% serta JAMINAN KEPUASAN membuat saya mencoba membelinya dan ingin mengetahui lebih lanjut. Datanglah flashdisk SONY, atau boleh saya menyebutnya fakedisk SONY merk yang cukup terkenal dan sering dipalsukan. Ciri fakedisknya adalah sebagai berikut: