Kali ini saya ingin menceritakan pengalaman pribadi mendaftarkan anak sekolah yang baru lulus SMP Negeri ke SMA Negeri di Kota Depok. Sebagaimana kita tahu, untuk SMA/SMK sederajat berada langsung di bawah Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat.
![]() |
| Ilustasi PCMB Jawa Barat Carut Marut - AI |
Rupanya pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini ada gagasan yang dibuat oleh Kang Demul selaku Gubernur Jawa Barat, yaitu sekolah Maung dan tahapan Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) yang kemudian saya pelesetkan menjadi Petaka Calon Murid Baru. Mengapa saya pelesetkan? Tentu mungkin diantara para pembaca sudah mendengar beritanya di berbagai platform medsos, dimana tahapan PCMB ini menjadi petaka bagi calon murid baru termasuk anak saya.
Beda kata Gubernur, Beda kata Sekolah
Pada banyak video yang berseliweran di media online, Kang Demul menjelaskan bahwa tahap PCMB ini adalah tahap pemetaan, tujuannya supaya pemerintah Jawa Barat bisa melihat sebaran calon murid yang mendaftar ke suatu sekolah. Dengan santainya Kang Demul meminta orang tua tidak usah panik, karena ini ibaratnya latihan ijab kabul, supaya nanti pas benerannya (tahap SPMB) sudah tidak salah lagi. Karena sudah tahu di sekolah mana anak kita berpotensi diterima.
Tapi pada kenyataan di lapangan, yang dikatakan Kang Demul sebagai latihan ijab kabul, tiba-tiba ada yang berteriak "SAH" meskipun wali dan mahar belum ada, ibaratnya begitu. Kenapa? Saat saya menghubungi SMAN 14 Depok dimana anak saya mendaftar, mereka berkata jika hasil PCMB ini sudah mengisi kuota. Bisa mendaftar di SPMB tahap 1 atau tahap 2 jika ada calon murid yang mengundurkan diri. Jadi kita sebagai orang tua murid hanya diberi harapan kosong. Logikanya mana ada orang yang sudah dikasih kesempatan masuk SMA Negeri lalu mencabut pendaftaran?
Jika tidak ada yang mengundurkan diri, maka jalur tersebut tidak dibuka lagi saat SPMB benerannya dilaksanakan. Jadi ini pemetaan apa petaka? Kenapa saya sebut petaka? Karena ada orang tua yang sebenarnya memiliki 2 kesempatan untuk mendaftarkan anakya dalam 2 jalur yang berbeda, namun gagasan mulia PCMB ini malah membatasi hanya bisa mendaftar dalam 1 jalur saja.
Simulasinya begini, jika ada orang tua murid dari keluarga tidak mampu ingin mendaftarkan anaknya melalui jalur afirmasi pada SPMB tahap 1. Jika gagal di tahap 1, masih ada kesempatan lagi di SPMB tahap 2 melalui jalur domisili. Itu kalau SPMB normal. Namun dengan adanya gagasan boloho mulia PCMB ini orang tua dipaksa hanya bisa memilih satu jalur. Akhirnya orang tua itu memilih jalur afirmasi untuk sekedar mengikuti pemetaan. Tapi setelah melalui proses verifikasi, hasilnya diluar kuota alias tidak diterima.
Lalu orang tua ini berencana ingin mendaftar di tahap 2 jalur domisili karena menurut hasil pemetaan tidak memungkinkan masuk melalui jalur afirmasi. Ternyata jalur domisili telah dipenuhi kuotanya melalui PCMB tadi oleh pendaftar lainnya. Sehingga jika tidak ada kuota lagi maka saat tahap 2 tidak akan dibuka jalur domisili, dan orang tua tidak bisa berbuat apa-apa. Itulah mengapa PCMB menjadi petaka bagi calon murid baru.
Seenaknya mengulur waktu tidak sesuai jadwal PCMB
Petaka yang kedua adalah jadwal PCMB yang seharusnya ditutup tanggal 8 Juni 2026 sesuai jadwal awal, diundur terus dengan alasan memberi kesempatan bagi yang belum mendaftar. Saya rasa ini terlalu naif, jika orang tidak melakukan proses registrasi sampai waktu yang telah ditentukan, seharusnya tidak di akomodir, hargai orang yang sudah bersusah payah registrasi dari awal.
Pengunduran waktu penutupan ini membuat anak yang tadinya sudah dalam kuota tiba-tiba merosot terus sampai akhirnya diluar kuota. Dan kita tidak bisa berbuat apa-apa karena sistem sudah dikunci. Yang katanya cuma pemetaan jadi petaka lagi karena Dinas Pendidikan Jawa Barat seenaknya merubah-rubah aturan. Memang seperti itu kebiasaan pejabat negara akhir-akhir ini...
Nilai akhir yang berubah
Pada tanggal 10 Juni 2026 sekitar pukul 01.00 saya melakukan screen shoot seluruh halaman pada jalur pendaftaran domisili. Anak saya masih berada dalam kuota. Setelah shubuh saya kembali membuka web SPMB Jabar, dan anak saya hilang dari urutan. Nah ini juga lucu, karena ramai di medsos banyak orang tua yang protes data anaknya tiba-tiba hilang, nanti kita bahas.
Saya cermati ada update data pada pukul 03.45 dan data beberapa nama yang rankingnya diatas anak saya mengecil 3-4 point, sementara data anak saya skornya tetap. Disini anak saya sudah diluar kuota. Yang jadi pertanyaan mengapa skor akhir bisa berubah di waktu dini hari? Saat saya tanyakan via telepon, panitia SPMB SMA N 14 Depok menjawab tidak mengerti, karena itu sistem.
Saya bisa menerima jika yang berubah hanya ranking, artinya masuk pendaftar lain yang skornya lebih baik dari anak saya. Tapi ini nilai akhir ! Ini kenapa saya sebut petaka juga. Dan inipun banyak dikeluhkan orang tua yang saya lihat di medsos-medsos karena sistem yang boloho error kalau tidak mau dibilang belegug "permainan".
Sistem jurnal yang bikin data anak hilang
Aplikasi SPMB Jabar ini memiliki sistem penjurnalan yang idiot tidak biasa. Dimana calon murid baru yang baru keluar jurnal mereka letakan di halaman dan baris paling terakhir. Jadi yang dalam jurnal di sortir ascending, sementara yang diluar jurnal di sortir descending. Dampaknya orang tua menyangka data anaknya hilang, apalagi kalau melihatnya pakai handphone.
Simulasinya begini:
Normalnya
No. Nama Nilai Akhir Keterangan
1. Deon 150 Dalam kuota
2. Demul 168 Dalam Kuota
3 Maung 170 Dalam kuota
4 Dodi 175 Luar Kuota
5 Dongdong 190 Luar Kuota
Jurnal Petaka Calon Murid Baru
No. Nama Nilai Akhir Keterangan
1. Deon 150 Dalam kuota
2. Demul 168 Dalam Kuota
3 Maung 170 Dalam kuota
4 Dongdong 190 Luar Kuota
5 Dodi 175 Luar Kuota
Kalau normalnya yang baru keluar kuota tetap dibawah baris terakhir dalam kuota. Tapi pada jurnal PCMB yang baru keluar ditaruh dihalaman akhir, sehingga orang tua yang mencari sesuai urutan kehilangan data anaknya penyebabnya karena sistem sortir boloho yang aneh ini, maka kita akan melihat skor yang tidak urut. Entah apa niat mereka membuat sortir seperti ini?
Copot bawahan tidak menyelesaikan masalah
Kang Demul berkata, pemetaan itu harusnya dilaksanakan di bulan Maret, tapi Dinas Pendidikan yang tidak terdidik ini malah melaksanakannya berbarengan dengan pendaftaran sekolah Maung dan mendekati SPMB reguler pula. Kang Demul teriak-teriak di medsos bahwa PCMB tidak menentukan hasil SPMB karena cuma pemetaan saja. Tapi humas SMA N 14 Depok mengatakan ini sudah masuk kuota, bahkan mengatakan Kang Demul kan tidak dilapangan. Keren emang....
Dalam web aplikasinya memang setelah PCMB ini selesai maka calon murid bisa memilih tombol setuju atau menolak, Jika setuju maka pemetaan ini otomatis jadi pendaftaran yang langsung mengurangi bahkan menghabiskan kuota, itu idiotnya lucunya sistem CPMB ini, katanya baru pemetaan tapi hasilnya bisa di klaim.
Untuk menyelesaikan masalah, sudah seharusnya hasil PCMB ini di anulir karena sudah mal administrasi, dan biarkan para calon murid baru melakukan pendaftaran dengan kuota penuh pada SPMB tahap 1 maupun 2. Jadi PCMB ini dijadikan proses verifikasi data saja seperti pra pendaftaran pada SPMB Kota Depok.
Sekedar tulisan tanpa banyak berharap
Saat saya berkomunikasi dengan petugas PCMB SMA N 14 Depok, saya sangat menghindari kata-kata "Tolong dibantu pak", karena khawatir itu bisa jadi celah "permainan". Sebagai panitia SPMB pun saya sangat tidak suka jika ada orang tua calon murid baru berkata kepada saya perkataan yang sama. Karena kami di Kota Depok sudah mengisi pakta integritas untuk menjalankan SPMB yang bersih, jangan ada ekses seperti di Jawa Barat hampir tiap tahunnya.
Sebagai warga Depok pun saya sebenarnya lebih suka Depok jadi bagian megapolitan Jakarta, karena budaya dan bahasa orang Depok lebih dekat ke bahasa Betawi atau Jakarta. Dan SPMB di Jakarta sepertinya jauh lebih baik.
Begitulan pengalaman buruk yang saya rasakan dalam mendaftarkan anak ke SMA Negeri di Jawa Barat. Tahapan PCMB yang seenaknya diperpanjang, pemetaan yang menjadi hasil SPMB membuat petakan bagi banyak orang tua calon murid serta pejabat yang sok merasa paling mengerti dan paling benar, yang tidak akan mendengarkan keluhan dan masukan ahli pendidikan maupun masyarakat luas.
Buat yang diterima di SMA Negeri saya ucapkan selamat, yang belum diterima terus berjuang untuk tetap sekolah tanpa terlalu banyak berharap dari pemerintah.

Komentar
Posting Komentar
Jika berkenan, kamu bisa memberikan komentar disini, dan jika kamu punya blog, saya akan kunjung balik. (Isi komentar diluar tanggung jawab kami).