Langsung ke konten utama

Katanya Banyak Orang Indonesia Pergi Haji Bikin Arab Saudi Kaya Raya, Benarkah?

Akhir-akhir ini saya sering melihat video di Youtube yang menggiring opini sesat, tujuannya sepertinya hanya untuk mendiskreditkan agama yang dipeluk mayoritas masyarakat Indonesia. Dalam video dibahas bahwa tiap tahun orang Indonesia setor trilyunan ke Arab Saudi karena mereka menunaikan rukun Islam ke-5 yaitu pergi haji ke tanah suci.

Gambar Ilustrasi : BAZNAS

Narasi-narasinya dibuat seolah logis, menggiring opini bahwa naik haji adalah bisnis Arab Saudi dengan menjerat orang-orang yang mabuk agama. Ditambah pula dengan komentar-komentar dari kelompok mereka yang sepemikiran bahwa tidak perlu jauh-jauh, tanah di halaman rumah kita juga suci. Ada pula yang terlihat seolah bijak, memberi makan orang yang kelaparan jauh lebih mulia daripada pergi berhaji. Dan masih banyak lagi narasi-narasi yang disampaikan untuk menyudutkan rukun islam ke-5 ini.

Semua itu membuat saya penasaran, apa iya negara Arab Saudi itu kaya raya karena orang dari seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia yang terbesar jamaah hajinya tiap tahun pada berangkat kesana untuk menunaikan ibadah haji?

Sebenarnya kalau kita mau berpikir dikit tidaklah terlalu sulit mencari datanya. Apalagi ini zaman Akal Imitasi (AI), dimana kita bisa mencari informasi dengan lebih mudah, asal mau ber-literasi sedikit dan jangan malas mencari.

Devisa Terbesar Negara Arab Saudi

Sumber devisa dan pendapatan terbesar Arab Saudi adalah minyak bumi, sektor minyak dan gas menyumbang sebagian besar dari total ekspor, Produk Domestik Bruto (PDB), serta pendapatan anggaran pemerintah negara tersebut.

Sumber terbesar kedua adalah sektor pariwisata termasuk didalamnya wisata religi (haji dan umroh). Jadi wisata di Arab Saudi tidak hanya haji dan umroh saja, tapi ada wisata-wisata lainnya yang tidak terkait dengan haji dan umroh.

Kalau dibandingkan antara migas dan sektor pariwisata termasuk didalamnya haji dan umroh perbedaannya sangat jauh. Tercatat pada 2024 pendapatan migas Arab Saudi sekitar US$201,7 miliar, sedangkan pendapatan dari ibadah haji sebesar US$10-15 miliar per tahun, untuk umroh sendiri sebesar US$4-5 miliar. Belum lagi sektor-sektor lain yang dimiliki oleh Arab Saudi, tidak melulu soal haji dan umroh.

Apakah Arab Saudi Akan Bangkrut Jika Ibadah Haji Terhenti?

Arab Saudi tidak akan bangkrut jika menghentikan ibadah haji dari luar negeri. Meskipun sektor pariwisata religi mengalami kelumpuhan total, fondasi ekonomi Arab Saudi secara makro masih ditopang oleh kekuatan finansial lain yang sangat raksasa.

Berikut adalah alasan mengapa Arab Saudi tetap tangguh dan terhindar dari kebangkrutan:

1. Minyak Bumi Tetap Menjadi Penopang Utama
Sektor migas masih menjadi mesin uang utama Kerajaan dengan menyumbang sekitar 60% dari total pendapatan APBN pemerintah dan menghasilkan lebih dari US$ 201,7 miliar per tahun. Kehilangan pendapatan haji (sekitar US$ 10–15 miliar) memang sebuah kerugian besar, namun angka tersebut masih sangat kecil jika dibandingkan dengan total jaminan arus kas dari ekspor minyak dunia dan produk petrokimia Saudi Aramco.

2. Cadangan Devisaa dan Dana PIF yang Masif
Arab Saudi memiliki benteng finansial yang sangat kuat untuk menahan guncangan ekonomi, diantaranya:
  • Cadangan Devisa: Bank Sentral Arab Saudi (SAMA) memiliki cadangan valuta asing ratusan miliar dolar yang siap digunakan dalam kondisi darurat.
  • Public Investment Fund (PIF): Dana kekayaan berdaulat (Sovereign Wealth Fund) milik Saudi mengelola aset senilai lebih dari US$ 900 miliar. PIF memiliki investasi saham raksasa di berbagai perusahaan teknologi, properti, dan industri global yang terus menghasilkan keuntungan di luar sektor pariwisata.

3. Sektor Non-Migas Lain yang Mulai Tumbuh
Perekonomian non-migas Arab Saudi saat ini sudah mencapai 54,8% dari total PDB negara. Selain haji, roda ekonomi dalam negeri mereka kini digerakkan oleh:Sektor konstruksi proyek-proyek raksasa (Giga Projects).

Sektor pertambangan mineral non-minyak (seperti emas, fosfat, dan bauksit).
Pajak domestik (pajak pertambahan nilai/PPN sebesar 15%) dan aktivitas perbankan serta investasi manufaktur lokal.

💡 Bukti Nyata: Pelajaran dari Pandemi COVID-19
Skenario ini sudah pernah diuji secara nyata pada tahun 2020 dan 2021 akibat pandemi COVID-19. Saat itu, Arab Saudi menutup total kedatangan jemaah haji dan umrah dari luar negeri selama hampir dua tahun.

Hasilnya: Ekonomi kota Makkah dan Madinah memang mengalami resesi lokal yang parah. Namun, secara nasional Arab Saudi tidak bangkrut. Pemerintah Saudi berhasil menambal kehilangan pendapatan tersebut dengan cara menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dalam negeri dari 5% menjadi 15%, melakukan efisiensi anggaran belanja, dan mengandalkan dividen dari Saudi Aramco.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia bisa mengalami guncangan ekonomi yang sangat hebat, bahkan berpotensi memicu kebangkrutan pada industri penunjangnya (sektor swasta), meskipun negara secara keseluruhan tidak akan pailit.

Berbeda dengan Arab Saudi yang kehilangan devisa masuk, Indonesia justru akan menghadapi krisis berupa kemacetan dana masif, kebangkrutan massal sektor swasta, dan beban sosial yang ekstrem.

Berikut adalah skenario dampak fatal yang akan menimpa Indonesia jika haji dihentikan total:

💥1. Kebangkrutan Massal Industri Travel & Umrah (Sektor Swasta)
Sektor swasta adalah pihak yang paling pertama runtuh.Gulung Tikar Ribuan Biro Travel: Lebih dari 2.000 Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan Haji Khusus (PIHK) di Indonesia akan langsung bangkrut karena kehilangan 100% sumber pendapatan utama mereka.

Efek Domino pada Ekosistem Domestik: Kebangkrutan ini akan menyeret industri turunan di dalam negeri, mulai dari maskapai penerbangan nasional (seperti Garuda Indonesia), hotel transit bandara, bisnis pembuatan seragam batik haji, konveksi perlengkapan ibadah, hingga penyedia suvenir dan oleh-oleh lokal.

📉 2. Krisis Kepercayaan pada Dana Haji (Rp238 Triliun)
Hambatan terbesar pemerintah adalah mengelola kepanikan publik terkait Dana Kelolaan Haji yang dipegang oleh BPKH (Badan Pengelola Keuangan Haji).

Potensi Rush Money (Penarikan Massal): Jika jemaah tahu mereka tidak akan pernah bisa berangkat ke Makkah seumur hidup, jutaan calon jemaah kemungkinan besar akan mengantre untuk menarik kembali uang setoran awal mereka (masing-masing Rp25 juta).

Ancaman Likuiditas Perbankan Syariah: Dana haji sebesar Rp238 triliun tersebut saat ini tidak berbentuk uang tunai di brankas, melainkan diinvestasikan dalam Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan disimpan di Bank Syariah domestik. Jika terjadi penarikan massal secara mendadak, perbankan syariah Indonesia bisa mengalami krisis likuiditas parah (gagal bayar) yang dapat menggoyang stabilitas sistem keuangan nasional.

🛡️ 3. Mengapa Negara Indonesia Secara Makro Tidak Bangkrut?
Secara agregat APBN, Indonesia tidak akan bangkrut total karena struktur ekonomi nasional tidak bergantung pada pendapatan haji.

Pondasi ekonomi yang Luas: Pendapatan negara Indonesia ditopang oleh pajak domestik serta ekosistem ekspor komoditas lain yang sangat besar, seperti batu bara, kelapa sawit (CPO), nikel, dan manufaktur, bukan dari sektor perhajian.

Tapi kalau kita melihat kondisi ekonomi Indonesia saat ini dengan hutang negara yang terus bertambah, pembiaayan MBG dan KDMP yang sangat menguras APBN, ditambah daya beli masyarakat yang terus melemah, jika (berandai-andai) mulai tahun 2027 tidak ada lagi pemberangkatan jamaah haji karena Arab Saudi menutup Makkah misalnya karena ada rudal Iran yang berseliweran, dan para calon jamaah kemudian panik ditambah tekanan ekonomi dalam negeri, lalu memicu rush money, sangat mengerikan membayangkannya.

👥 4. Krisis Sosial dan Psikologis Masyarakat
Kehilangan kesempatan menunaikan rukun Islam kelima secara permanen akan menciptakan kekecewaan kolektif yang luar biasa besar di tengah masyarakat Indonesia, yang berpotensi memicu ketidakstabilan sosial dan politik dalam negeri.

Manfaat Haji Bagi Indonesia
  • Penguatan Likuiditas Keuangan Syariah: Dana setoran awal jemaah yang dikelola oleh BPKH (Badan Pengelola Keuangan Haji) menjadi pilar likuiditas utama bagi industri perbankan syariah domestik untuk menyalurkan pembiayaan produktif.
  • Pendanaan Infrastruktur Nasional: Melalui investasi pada Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), dana haji secara langsung membiayai pembangunan fasilitas publik seperti jalan, jembatan, dan sarana pendidikan di dalam negeri.
  • Pemberdayaan UMKM dan Industri Penunjang: Musim haji menghidupkan ekosistem bisnis lokal, mulai dari konveksi seragam batik haji, pabrik perlengkapan ibadah, industri makanan olahan untuk katering, hingga jasa biro perjalanan (travel).
  • Peningkatan Kualitas Karakter Sosial: Sekembalinya ke tanah air, jemaah haji sering kali menjadi figur teladan (tokoh masyarakat) yang memperkuat solidaritas sosial, memelopori kegiatan amal, dan menjaga stabilitas moral di lingkungan mereka.
Manfaat Haji Bagi Negara-negara Berpenduduk Muslim
  • Stimulus Ekonomi Global dan Multinasional: Haji menggerakkan industri penerbangan internasional, perhotelan, transportasi maktab, dan logistik global. Perputaran uangnya menjadi salah satu penyumbang devisa non-migas di Timur Tengah.
  • Hubungan Diplomasi dan Geopolitik: Pertemuan tahunan ini menjadi wadah diplomasi informal terbesar antarnegara Muslim. Negara-negara dapat memperkuat kesepakatan bilateral, kerja sama ekonomi, dan koordinasi keamanan regional.
  • Pusat Pertukaran Budaya dan Literasi: Jutaan manusia dari berbagai ras, bahasa, dan latar belakang budaya berkumpul di satu tempat. Hal ini memicu asimilasi budaya yang damai, pertukaran pengetahuan, serta pengikisan prasangka rasial (toleransi global).
  • Platform Kampanye Isu Kemanusiaan: Momen haji sering kali menjadi momentum global untuk menyuarakan perdamaian dunia, bantuan kemanusiaan bagi wilayah konflik, serta edukasi kesehatan masyarakat skala internasional (seperti standardisasi mitigasi pandemi).
Manfaat Haji Bagi Negara-negara Non Muslim

Industri raksasa non-Muslim yang mendapatkan keuntungan masif (banjir cuan) dari penyelenggaraan ibadah haji setiap tahun:
✈️ 1. Industri Pabrikan Pesawat Terbang (AS dan Eropa)
Ini adalah sektor penikmat keuntungan haji terbesar di luar Arab Saudi. Jutaan jemaah dari seluruh benua wajib terbang menggunakan pesawat berbadan lebar (wide-body).
Boeing (Amerika Serikat) & Airbus (Eropa): Maskapai dunia seperti Saudia Airlines (yang menyalurkan 1 juta kursi khusus musim haji) secara periodik memesan hingga ratusan unit pesawat bernilai ratusan miliar dolar untuk memperluas armada perhajian mereka. Begitu pula dengan maskapai penyewa pesawat (wet-lease) global yang jasanya laris manis disewa negara-negara seperti Indonesia setiap tahun.
🏨 2. Jaringan Hotel Mewah Global (Barat)
Kawasan komersial di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi didominasi oleh gedung pencakar langit yang dikelola oleh konglomerat perhotelan multinasional non-Muslim. Jaringan hotel papan atas dunia seperti Marriott International, Hilton Worldwide, Radisson, dan Accor (Prancis) mengelola ribuan kamar premium yang tarifnya melesat berkali-kali lipat hingga ribuan dolar per malam selama musim haji.

🛍️ 3. Produsen Barang Konsumsi & Suvenir (Tiongkok)
Pasar retail oleh-oleh di Makkah dan Madinah digerakkan secara masif oleh produk impor non-Muslim. Suvenir buatan Tiongkok: Mulai dari sajadah, tasbih elektronik, peci, replika Kakbah, mainan anak, hingga oleh-oleh khas haji sebagian besar diproduksi massal di pabrik-pabrik manufaktur wilayah Yiwu atau Guangdong, Tiongkok. Sektor grosir ini menikmati keuntungan margin yang sangat tebal berkat konsumsi jemaah.

🏗️ 4. Infrastruktur & Kereta Cepat (Konsorsium Global)
Pembangunan megaproyek untuk melayani mobilitas jemaah haji melibatkan kontraktor rekayasa teknologi terbaik dunia. Kereta Cepat Haramain (Makkah-Madinah): Proyek transportasi revolusioner untuk mempermudah pergerakan jemaah haji ini dibangun dan dirawat menggunakan teknologi serta kerja sama dari Konsorsium Al Shoula asal Spanyol (perusahaan-perusahaan eropa non-Muslim seperti Talgo, Adif, dan Renfe).

📱 5. Telekomunikasi & Teknologi (Silicon Valley)
Selama 40 hari di tanah suci, jutaan jemaah menggunakan aplikasi navigasi, membeli paket data internet raksasa, serta melakukan panggilan digital. Pendapatan ini berputar ke vendor teknologi global pembuat infrastruktur jaringan seperti Ericsson (Swedia), Nokia, Cisco, serta sistem komputasi awan (cloud) dari Google dan Microsoft untuk sistem kecerdasan buatan pengaturan kerumunan.
Secara ringkas, haji bukan lagi sekadar ritual keagamaan tertutup, melainkan sebuah ekosistem ekonomi global raksasa di mana kapitalisme dan korporasi Barat serta Asia non-Muslim memegang peran vital di balik layar operasionalnya.
Ternyata bukan Arab Saudi saja yang diuntungkan dari adanya ibadah haji dan umrah ini. Negara Indonesia pun diuntungkan dengan setoran dana nasabah yang bisa di kelola terlebih dahulu untuk menggerakan roda ekonomi. Bahkan negara non muslim pun ikut menikmati porsi keuntungan yang tidak kalah besar dari negara-negara muslim yang berhaji.
Lalu kenapa ada sekelompok orang yang menarasikan haji itu bisnis negara Arab Saudi, seolah uang seluruh orang yang berhaji hanya masuk ke negara Arab Saudi saja? Kan tidak logis.
Berhaji adalah ibadah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, pada masa itu tidak terpikirkan oleh masyarakat Arab bahwa ibadah haji akan menggerakan ekonomi global tidak hanya bagi negara berpenduduk muslim saja, tetapi negara-negara non muslim ikut merasakan cuan dari prosesi tahunan yang dilakukan ummat Islam seluruh dunia. Mungkin ini salah satu makna dari Islam sebagai agama rahmat bagi semesta alam, memberi manfaat bagi dunia, sementara kalian cuma bisa cuap-cuap di podcast saja tanpa bisa merubah apapun.

Baca Juga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati-hati SONY Fakedisk, Flashdisk Palsu di Lazada

Sebenarnya saya tidak mau posting ini, tapi saya rasa perlu kiranya pembaca ketahui bahwa hati-hati jika membeli flashdisk murah meskipun di toko online yang punya nama besar seperti Lazada. Karena ada saja merchant-merchant nakal yang suka menjual barang palsu. Saya baru saja membeli 3 buah flashdisk SONY 32GB MicroVault di Lazada seharga Rp. 60.000 – Rp. 70.000an per buah. Memang sih harga segitu terlalu murah dan seharusnya kita curiga. Tapi nama besar Lazada dengan layanan PERLINDUNGAN PEMBELI 100% serta JAMINAN KEPUASAN membuat saya mencoba membelinya dan ingin mengetahui lebih lanjut. Datanglah flashdisk SONY, atau boleh saya menyebutnya fakedisk SONY merk yang cukup terkenal dan sering dipalsukan. Ciri fakedisknya adalah sebagai berikut:

Pengalaman Nonton Ayat-ayat Cinta

Coz webnya kakbayu nggak bisa dibuka ya udah jadinya saya krm in email aja, saya mo cerita nich... Hari jumat yang lalu saya nonton ayat2 cinta bareng ama temen, dan Subhanalloh, mata saya bengkak gedhe banget sekeluarnya dari bioskop, dan bengkak itu 2 hari baru bisa kempes, he he he he he. Sebenarnya saya nangis bukan karena jalan ceritanya, bukan karena Fahri yang begitu sempurna seperti halnya Aisha baik agama maupun hati dan akhlaknya, bukan juga karena nasib Maria yang begitu malang. Tapi ada dua adegan yang sampai sekarang kalo diinget saya masih tetep nangis.

Hubungan BI Rate, The Fed, dan IHSG: Mengapa Penting untuk Diketahui?

(Gambar : Okezone Ekonomi) Kondisi ekonomi global dan domestik sangat mempengaruhi pasar keuangan Indonesia, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dua faktor utama yang sering menjadi sorotan para pelaku pasar adalah BI Rate (suku bunga acuan Bank Indonesia) dan kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat. Lalu, bagaimana sebenarnya hubungan antara BI Rate, The Fed, dan IHSG? Mari kita bahas lebih lanjut. Apa Itu BI Rate dan The Fed? BI Rate adalah suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. BI Rate menjadi acuan bagi suku bunga perbankan dan lembaga keuangan lainnya di Indonesia, sehingga berpengaruh terhadap suku bunga kredit dan tabungan masyarakat. The Fed adalah bank sentral Amerika Serikat yang menetapkan suku bunga acuan atau yang dikenal sebagai "The Fed Rate." Kebijakan suku bunga The Fed memiliki dampak besar terhadap ekonomi global karena dolar AS merupakan mata uang cadangan dunia. Bagaimana Hubungan Antara BI Rate dan The...